Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Saturday, April 15, 2017

Hakikat Tuyul dalam Tinjauan Syariah


Adakah Tuyul dalam Syariat

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum

Sekitar 3 bulan ini saya sering kehilanngan uang. Saya baru ambil dari bank beberapa bundel ratusan ribu. Setiap satu bundel, pasti ada yang kurang 4 hingga 6 lembar. Padahal disimpan di brankas, terkunci. Mustahil jika itu manusia. Apa mungkin ada makhluk lain, seperti tuyul yang mengambilnya? Padahal kitakan hidup di zaman modern. Dan sebenarnya tuyul itu ada gak? Kalo ada seperti apa? Terus terang, saya sangat gondok dengan kejadian ini.

Nuwun.

Dari: Edi

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah.

Kami turut merasakan kesedihan atas musibah yang anda alami. Namun apapun itu, kita perlu tanamkan dalam hati bahwa semua bentuk kesedihan, musibah, dsb, yang dialami setiap muslim, pasti akan Allah jadikan kaffarah (penebus) atas dosa dan kesalahan yang kita lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ المُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ

“Tidak ada musibah yang menimpa seorang muslim, kecuali Allah jadikan sebab untuk kafarah dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Itu artinya, tidak ada yang disia-siakan dalam hidup kita. Susah senang yang kita alami, berpotensi menjadi sumber pahala dan sekaligus sumber dosa. Semuanya kembali kepada sikap kita sebagai pelaku sejarahnya. Karena itu, kami nasehatkan agar bersabar dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala.

Hari gini masih ada yang punya tuyul?

Sebagian orang menyangka, segala hal yang berbau klenik, akan menyusut sejalan dengan perkembangan teknologi. Padahal sejak kapan ada hubungan antara teknologi dengan tahayul dan kesyirikan. Penyakit klenik dan syirik yang dilakukan msyarakat bisa saja muncul tanpa memandang waktu dan tempat. Bahkan bisa jadi lebih canggih dari pada klenik masa silam, sejalan dengan kecanggihan dunia IT. Anda bisa saksikan, berbagai situs kesyirikan di sekitar kita masih tumbuh subur, dan dipasarkan melalui internet.

Dan termasuk tanda akhir zaman, kesyirikan yang pernah ada di zaman jahiliyah, akan muncul kembali di tengah manusia. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللَّات وَالْعُزَّى

“Tidak akan hilang waktu malam dan siang (kiamat), sampai Lata dan Uzza disembah.” (HR. Muslim 2907)

Apa Hakikat Tuyul

Fenomena tuyul, tak jauh beda dengan Nyi Roro Kidul. Dia adalah jin yang dilaporkan pernah dilihat oleh manusia dengan penampakan seperti anak kecil gundul yang suka mencuri, kemudian mereka istilahkan dengan tuyul. Sehingga kata ‘tuyul’ sejatinya merupakan nama yang murni diberikan masyarakat. Sebagaimana ada jin yang menjelma seperti sosok berbalut kain mori, yang kemudian diistilahkan dengan pocong.

Sekaligus kita tekankan di sini, bahwa usaha untuk mencari hakikat nama-nama ‘makhluk halus’ yang tersebar di tempat kita sangat tidak penting. Bahkan layak dikatakan sia-sia, 100% buang-buang waktu dan pikiran. Karena sedikit pun kita tidak akan mendapatkan manfaat dari informasi tersebut. Anda yang memahami asal-usul Nyi Roro Kidul, atau kuntilanak, dan semacamnya, sama sekali tidak akan membuat anda jadi kaya atau tambah rajin ibadah. Kita cukup meyakini bahwa itu jin yang menjelma menjadi bentuk lain dan kebetulan bisa diindera oleh manusia.

Bagaimana Mekanisme Tuyul Mencuri?

Seperti layaknya jin, sosok yang disebut tuyul, juga bisa memindahkan barang. Hanya saja, antara satu jin dengan jin lainnya, berbeda kemampuannya, sebagaimana layaknya manusia. Ada jin yang bisa memindahkan barang berat, sebagaimana ada manusia yang bisa angkat berat. Jin juga bisa mencuri sebagaimana manusia bisa mencuri.

Kasus jin yang mencuri ini, tidak hanya muncul di masyarakat jawa. Di zaman Nabi-pun peristiwa ini pernah terjadi. Diantaranya peristiwa yang dialami Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau ditugasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga zakat ramadhan. Malam harinya datang seorang pencuri dan mengambil makanan. Dia langsung ditangkap oleh Abu Hurairah. “Akan aku laporkan kamu ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Orang inipun memelas. Minta dilepaskan karena dia sangat membutuhkan dan punya tanggungan keluarga. Dilepaslah pencuri ini. Siang harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Hurairah tentang kejadian semalam. Setelah diberi laporan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia dusta, dia akan kembali lagi.” Benar, di malam kedua dia datang lagi. Ditangkap Abu Hurairah, dan memelas, kemudian beliau lepas. Malam ketiga dia datang lagi. Kali ini tidak ada ampun. Orang inipun minta dilepaskan. “Lepaskan aku, nanti aku ajari bacaan yang bermanfaat untukmu.” Kemudian dia mengajarkan bacaan ayat kursi sebelum tidur.

Di pagi harinya, kejadian ini dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. kemudian beliau bersabda: “Kali ini dia benar, meskipun aslinya dia pendusta.” (HR. Bukhari 2311)

Yang ditangkap oleh Abu Hurairah waktu itu adalah jin yang menjelma menjadi bentuk lain. Ketika menjelaskan hadis ini, al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Jin terkadang menjelma dengan berbagai bentuk sehingga memungkinkan bagi manusia untuk melihatnya…” (Fathul Bari, 4:489).

Apakah Ada Yang Nyuruh?

Bisa jadi ada yang nyuruh, bisa juga karena si jin iseng sendiri, atau kadang karena memang mereka butuh makanan seperti dalam hadis Abu Hurairah di atas. Kasus orang yang merawat tuyul juga pernah terjadi di masa silam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menyebutkan tentang al-Hallaj – tokoh sufi yang mengaku telah menyatu dengan tuhannya – ,

وكان صاحب سيمياء وشياطين تخدمه أحياناً، كانوا معه (بعض أتباعه) على جبل أبي قبيس، فطلبوا منه حلاوة، فذهب إلى مكان قريب، وجاء بصحن حلوى، فكشفوا الأمر فوجدوا ذلك قد سرق من دكان حلاوي باليمن، حمله شيطان تلك البقعة

Al-Hallaj memiliki atribut khusus, terkadang setan membantunya. Seuatu ketika, dia bersama pengikutnya di bukit Abu Qubais, kemudian pengikutnya minta manisan. Kemudian al-Hallaj pergi ke tempat tertentu yang tidak jauh dari markasnya, lalu dia kembali dengan membawa sepiring manisan. Masyarakat pun mencari tahu kejadian sejatinya, ternyata sepiring makanan itu berasal dari toko manisan di Yaman, yang dibawa oleh setan ke tempat itu. (Alam Jin wa asy-Syayathin, Hal. 93).

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)



Saturday, February 27, 2016

HATI-HATI, Makanan Ini Bisa Jadi Rezekinya Setan

Setiap makhluk Allah pasti diberi rezeki. Tidak hanya bagi ciptaan-Nya yang patuh, Allah pun memberikan rezeki kepada makhluk pembangkang dan penyesat manusia yakni setan laknatullah. Ternyata setan memiliki pola kehidupan menyerupai manusia.

Mereka makan dan minum seperti kita. Bahkan setan juga melakukan jima, dan berbagai aktivitas lainnya. Namun apakah di dunia gaib juga tersedia makanan layaknya dunia manusia? Dari manakah setan ini mendapatkannya? 

Ternyata setan dan kawanannya juga memperoleh rezeki dari setiap makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Namun bagaimana bisa makanan yang kita konsumsi bisa menjadi sumber rezekinya mereka? Berikut informasi selengkapnya. 
Kepada Allah Ta’ala, iblis berkata, “Tuhanku, semua makhluk telah Engkau jelaskan rezekinya.” Pungkas makhluk terlaknat ini seraya sampaikan tanya, “Di manakah rezeki bagiku?”

Dalam lanjutan hadits yang diriwayatkan oleh adh-Dhiya’ dari Sa’id bin Jubair yang mendapatkan riwayat ini dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah Ta’ala berkata (menjawab pertanyaan setan tentang rezeki bagi mereka), ‘Di dalam makanan yang tidak disebutkan nama-Ku.’”

Merujuk pada makna kalimat ‘makanan yang tidak disebutkan nama-Ku (Allah)’, maka semua jenis makanan baik yang halal sekalipun jika dikonsumsi manusia tanpa melafalkan bismillah maka makanan tersebut termasuk dalam kategori rezeki setan.

Ditegaskan dalam riwayat lain, bahwa setan juga memakan kacang sebagaimana disampaikan oleh ‘Umar bin Khaththab. Ia bertanya kepada seseorang yang pernah ditawan bangsa jin, “Apakah makanan mereka?”

Yang ditanya sampaikan jawaban, “Kacang, dan apa yang tidak disebutkan nama Allah Ta’ala (saat memakannya).”

“Apa minumannya?” tanya ‘Umar lagi. Lalu dijawab, “Jadaf.”

Jadaf ditafsirkan sebagai tumbuhan di Yaman yang tidak perlu menggunakan air untuk memakannya, atau makanan yang bisa dimakan oleh unta dan tidak butuh air setelah memakannya, atau minuman yang tidak membuat peminumnya tersedak.

Selayaknya rezeki bagi manusia yang berbentuk makanan, ada pula jenis bahan tertentu yang dijelaskan sebagai makanan (rezeki) bagi bangsa setan ini. Hal ini disimpulkan dari hadits yang dishahihkan oleh Imam Muslim sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada bangsa jin, “Setiap tulang yang tidak disebutkan nama Allah Ta’ala yang jatuh ke tanganmu adalah daging yang paling baik untukmu.”

Lanjut baginda yang mulia, “Dan setiap kotoran binatang adalah makanan binatangmu.”

Kemudian, baginda Nabi menghadap ke arah para sahabatnya yang mulia. Beliau berpesan, “Jangan gunakan keduanya (tulang dan kotoran hewan) untuk membersihkan kotoran. Karena keduanya adalah makanan saudara-saudaramu.”

Demikianlah informasi mengenai rezeki untuk setan yang ternyata adalah setiap makanan yang dikonsumsi tanpa terlebih dahulu melafalkan bismillah. Oleh karena itu, sebagai muslim yang beriman hendaklah kita senantiasa membaca bismillah ketika hendak melakukan atau mengonsumsi sesuatu agar tidak menjadi rezeki bagi setan.

Beginilah Dosa Memakai Jilbab Gaya Punuk Unta

Jilbab merupakan identitas bagi wanita muslimah untuk menutupi auratnya. Di era modern, berbagai macam gaya jilbab muncul untuk mempercantik penampilan. Meski sudah menjadi kewajiban, namun memakai jilbab juga memiliki aturan.

Salah satu gaya yang terlarang dilakukan adalah memakai jilbab punuk unta. Pada bagian belakang kepala, sengaja dibuat tonjolan meninggi sehingga terlihat seperti punuk unta. Parahnya, gaya ini justru menjadi tren dilakangan wanita muslimah masa kini.

Ternyata ini sudah diprediksi sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Hal ini terkesan sepele, namun ternyata dosanya sangat besar. Berikut ketahui dosa memakai jilbab punuk unta untuk menghindari neraka.

Hal ini disampaikan Nabi Muhammad SAW sepulangnya Beliau dari Isra’ Mi’raj. Dalam perjalanan tersebut, Rasul melihat wanita dengan jilbab punuk unta jalan berlenggak-lenggok. Mirisnya, Rasul terakhir ini melihat golongan tersebut di neraka. Bahkan perempuan-perempuan ini tidak akan bisa mencium bau surga.

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya yaitu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia (maksudnya penguasa yang dzalim), dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali),” (HR. Muslim dan yang lain).

Maksud punuk unta dalam hadist di atas adalah, wanita menggulung rambutnya sehingga membentuk tonjolan dibagian belakang jilbabnya. Bukan dihindari, wanita masa kini justru sengaja membuat benjolan tersebut.

Jika rambutnya pendek, mereka bahkan akan membeli dalaman jilbab dengan jenis konde ato cepol. Sehingga tonjolan tersebut memang sengaja dibuat untuk mempercantik penampilan. Maka wajib untuk mengurainya dan tidak menumpuknya.

Sahabta i-yunik, ancaman kabar dari Nabi Muhammad ini tentu bukan main-main dan hanya menakut-nakuti. Namun nyata akan diterima jika kita tetap melanggarnya.

Jangankan masuk surga, wanita dengan jilbab punuk unta juga tidak akan pernah mencium aroma surga. Padahal, wangi surga bisa tercium dari ribuan mil jauhnya. Tidakkah kita takut dengan ancaman seperti ini?
Wallahu Ta’ala a’lam.

Salah satunya Amalan Berpahala Ternyata Temani Istri Belanja, inilah penjelasannya

Bagi para suami berbelanja merupakan aktivitas membosankan dan tidak disukai. Terlebih jika belanja untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka lebih memilih bermain dengan perangkat game atau gadgetnya ketimbang melakukan aktivitas yang satu ini.

Berbeda dengan suami, bagi para istri berbelanja menjadi rutinitas wajib. Mereka harus memastikan semua keperluan rumah tangga terpenuhi dengan kegiatan belanja tersebut. Perbedaan minat inilah yang membuat suami jarang menemani istrinya berbelanja.

Meskipun sesekali mau, para istri harus siap mendengar omelan suami terlebih dahulu sebelum akhirnya ditemani belanja. Padahal ada begitu banyak pahala yang dijanjikan Allah dengan aktivitas ini. Apa saja pahalanya? Yuk baca ulasannya.

Kegiatan belanja wanita yang sudah menikah tentu berbeda dengan mereka yang masih lajang. Jika saat masih sendiri wanita berbelanja untuk kepentingan pribadi, bahkan cenderung menghabiskan uang untuk belanjaan yang tidak penting.

Namun ketika sudah menikah tidak demikian. Aktivitas belanja saat sudah memiliki suami dilakukan demi memenuhi kebutuhan suami dan anak-anaknya. Belanjaan yang dibeli pun adalah hal-hal yang berguna untuk keluarganya. Setelah menikah wanita akan lebih mendahulukan kepentingan keluarga dibanding kepentingannya sendiri.

Inilah yang terkadang membuat istri mengelus dada. Pasalnya suami tidak mau menemaninya berbelanja saat mereka memiliki waktu luang. Bahkan diantara mereka ada yang menyuruh istri naik taksi atau angkot sendiri, padahal dia memiliki kendaraan yang bisa digunakan untuk mengantarkan sang istri. Hal ini memang hanya hal sepele. Namun tahukah anda penolakan anda tersebut dapat menyakiti hati istri.

Namun para istri tidak perlu berkecil hati. Karena keikhlasan anda akan tetap mendapat balasan dari Allah SWT. Dan merugilah bagi suami yang suka menolak istri untuk menemani mereka berbelanja. Pasalnya ada begitu banyak pahala yang dijanjikan Allah untuk anda yang menyenangkan istri termasuk urusan menemani belanja.

Rasullulah SAW bersabda; "Sungguh aku berjalan bersama seorang saudara (muslim) di dalam sebuah keperluan lebih aku cintai daripada aku beriktikaf di dalam masjid ku (masjid Nabawi) ini selama sebulan." (HR. Ath-Thabarani)

Syaikh Muhammad bin shalih Al-Ustaimin rahimahullah berkata : "Menunaikan kebutuhan kaum muslimin lebih penting dari pada iktikaf, karena manfaatnya lebih menyebar, menfaat ini lebih baik daripada manfaat yang terbatas (untuk diri sendiri). Kecuali manfaat terbatas tersebut merupakan perkara yang penting dan wajib dalam Islam (misalnya shalat wajib)."

Ganjaran melebihi pahala beriktikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh. Begitu besar kemualiaannya bukan? Padahal itu dilakukan untuk saudara Muslim yang bisa saja tidak memiliki hubungan khusus. Bagaimana dengan istri, orang yang memang berhak dan wajib dibahagiakan? Tentu saja kemuliaannya akan semakin besar lagi.

Rasullulah SAW bersabda : "Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya." (HR At-Thirmidzi)

Untuk itu, dahulukan lah istri anda sebelum gadget atau teman-teman anda. Karena sebenarnya, saat anda meninggal nanti, yang menangisi anda bertahun-tahun bukanlah teman atau gadget anda. Tapi istri, yang selalu anda tolak kalau dimintai tolong menemani mereka berbelanja.

Inilah Tanda Orang yang Selalu Dikejar Rezeki

Setiap manusia pasti diberi rezeki dengan kadar yang berbeda-beda. Setiap hari orang-orang berjuang untuk mendapatkan rezekinya dengan bekerja. Ada yang sudah bekerja dengan begitu keras, tapi mendapatkan hasil yang pas-pasan.

Ada pula yang usahanya biasa saja, namun diberi rezeki yang begitu berlimpah. Semua adalah ketetapan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Tapi tahukah anda ternyata ada golongan yang selalu dikejar rezeki?

Amalan yang dilakukan membuat Allah SWT menjamin rezeki untuk mereke. Tidak hanya itu, rezeki yang diberikan juga mendapat keberkahan sehingga membawa kebaikan di sisi-Nya. Siapa kah golongan itu? Berikut ulasannya.

Keterangan tentang golongan yang mendapat jaminan rezeki dari Allah sudah dipaparkan dalam Alquran dan hadist. Mereka tidak dijamin rezeki berupa materi saja. Namun juga rezeki lain seperti kebahagiaan keluarga, kesehatan, rezeki iman dan lainnya.

Adalah golongan orang-orang yang bertakwa, yang mendapat jaminan rezeki dari Allah SWT hingga berlimpah. Bahkan rezeki tersebut datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Hal ini dijelaskan Allah SWT dalam surat Ath-Thalaq 2-3 yang artinya.

”Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan memberikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangaka. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan memberikan kecukupan baginya …” (QS. Ath Thalaaq:2-3). (QS. Ath-Thalaq [65] : 2-3).

Tawakal adalah berserah diri dan menyandarkan hati hanya kepada Allah ’Azza wa Jalla. Golongan ini yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Allah SWT saja yang dapat memberi mencegah dan memberikan  memberikan keburukan dan manfaat. Selain Alquran, Nabi Muhammad SAW juga banyak menjelaskan hal ini dalam hadist-hadistnya. Salah satunya diriwayatkan oleh Imam Ahmad berikut.

Dari ‘Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “ (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Nasaai, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dan Al Hakim. Imam Tirmidzi berkata : hasan shahih)

Dalam hadist di atas terlihat bahwa sikap tawakal yang benar harus disertai dengan mengambil sebab yang diisyaratkan. Namun mengambil suatu sebab bukan berarti menafikan (meniadakan) tawakal. Pada saat Rasulullah memasuki Kota Mekah pada saat peristiwa Fathul Mekah, Nabi terakhir ini etap menggunakan pelindung kepala (ini menunjukkan beliau mengambil sebab untuk melindungi diri beliau). Beliau juga telah memberi petunjuk untuk menggabungkan antara mengambil sebab dan bersandar kepada Allah melalui sabda beliau :

“Semangatlah kalian terhadap hal-hal yang bermanfaat bagi kalian dan mohonlah pertolongan kepada Allah “ (H.R Muslim 2664).

Semoga kita senantiasa menjadi hamba-hamba yang bertawakal kepada Allah, selalu bekerja keras dan mendapatkan rezeki berkah dari berbagai arah yang tidak pernah disangka-sangka.